Kuliah Panjat Tebing di Tepian Ci Kaso

Secara alamiah, anak-anak lembur memiliki naluri dan nyali pemanjatan yang sangat baik. Tinggal dipandu agar melek alat dan melek sistem, bukan tak mungkin mereka akan tumbuh menjadi pemanjat-pemanjat hebat.

Ci Kaso, kala kemarau

Ada banyak kabar baik dari Ci Kaso. Tak hanya soal panjat tebing. Kemarau yang masih eksis hingga hari ini membuat alirannya tetap tenang, bening kehijauan, meskipun lubuk-lubuknya masih tetap dalam dan menakutkan.

Tepian sungai berbatu menjadi tempat piknik keluarga bagi urang Sagaranten dan sekitarnya. Asap mengepul dari tungku-tungku batu tempat nasi liwet diproses dan ditunggu. Di dekatnya, tikar-tikar digelar bagai di sebuah restaurant lesehan.

Pada bagian sungai yang berpasir, banyak yang mencari remis, kerang kecil berwarna kuning yang konon memiliki nama ilmiah Corbicula javanica. Belasan tahun lalu, akibat kebanyakan latihan fisik tanpa gizi seimbang—saat itu Jantera sedang mempersiapkan Ekspedisi Papua—saya terkena liver alias konengeun. Si dr. Martasono di Sagaranten dengan enteng memberikan saran: makan remis, ya!

Jembatan gantung Gaul, Ci Kaso, penghubung Kec. Sagaranten dan Pabuaran. Foto: Oka Sumarlin
Jembatan gantung Gaul, Ci Kaso, penghubung Kec. Sagaranten dan Pabuaran. Foto: Oka Sumarlin

Sabtu sore, 07 September 2019, dua orang pemanjat singgah di rumah saya di Jambatan Tilu. Mereka adalah Sogi dan Kris, anggota PASEUK (Pecinta Alam STIKES Sukabumi). Selain aktif di perhimpunannya, keduanya juga banyak berkiprah di Sekolah Panjat Tebing Merah Putih yang diembahi Om Tedi Ixdiana. Si Om ini kagak usahlah dibahas pengalamannya. Nanti kalian gila!

Sogi berkawan dengan beberapa senior Passanam SMAN 1 Sagaranten. Rupanya mereka sekongkol untuk  main bareng, mencari tebing-tebing yang sekiranya bisa dibuka sebagai jalur panjat. Sambil ngops (dibaca: ngopi) di bale-bale balakang rumah, kami berbincang tentang banyak hal seputar pemanjatan sebelum akhirnya bergerak ke sekitar jembatan gantung Ci Kaso lewat jalur Pabuaran.

Baca juga: Bouldering di Ci Kaso

Tiba di TKP, kami disambut oleh keindahan Ci Kaso berserta berbagai aktivitas yang tengah berlangsung di sana. Yang menarik, rupanya Kecamatan Pabuaran berniat mengembangkan tempat itu menjadi objek wisata yang agak serius, entah bagaimana konsepnya. Tetapi lahan telah diberishkan, boulder-boulder breksi yang selama ini tertutup semak-semak tiba-tiba terbuka, menggoda para peminatnya.

Kami membuka perkemahan di bawah sebuah boulder berbentuk ceruk. Selain menjadi pelindung dari panas dan hujan, batuannya sangat menantang untuk dijadikan tempat latihan. Di seberang sungai, ada tebing terbuka sekira dua puluh meter tingginya. Tebing itu dibentuk oleh ledakan dinamit para penambang batu. Proses penambangan masih terus berlangsung, namun ada beberapa sisi yang sudah lama ditinggalkan. Pada bagian itulah anggota tim memutuskan untuk melakukan survey pemanjatan.

Sebatang pohon yang menclok di pucuk tebing mempermudah tim untuk memasang tambatan (anchor). Kris langsung turun dengan teknik rappeling, mengamati setiap bagian dengan sangat cermat. Rumput-rumput penghalang dibersihkan alakadarnya. Sesekali terdengar teriakan … rock! Pertanda ada batuan yang jatuh. Teriakan itu menjadi pesan kilat bagi mereka yang berada di bawah.

Mencari jalur panjat tebing di sekitar lokasi tambang. Foto: Oka SUmarlin
Mencari jalur panjat tebing di sekitar lokasi tambang. Foto: Oka Sumarlin

Masalah utama ditebing ini memanglah batuan lepas. Namun, jumlahnya tak terlalu banyak. Jika leukeun atau telaten untuk membersihkannya, jalur ini menjadi relatif aman untuk dipanjat. Inilah PR yang belum mampu diselesaikan sore itu.

Selepas maghrib, saya sekeluarga pamit. Saya tinggalkan anak-anak yang penuh semangat itu menghabiskan malam di antara kemegahan batuan di tepian Ci Kaso. Disitulah kuliah panjat dimulai. Hingga pukul 02.00 dinihari, barudak Passanam tak bosan menimba ilmu dari Sogi dan Kriss yang meskipun usianya tak jauh berbeda, tetapi pengalamannya jauh di atas mereka.

Malam itu, kedua pemanjat PASEUK itu ibarat dosen tamu. Mereka bercerita tentu ini itu panjat tebing, bahkan beberapa teknik langsung disimulasikan di sekitar perkemahan. Murid-muridnya yang haus ilmu, menyimak dengan semangat yang berkali lipat dari kebiasaan mereka mengikuti pelajaran di sekolah.

Ketika saya kembali ke Ci Kaso keesokan harinya, mereka tengah bersiap untuk melakukan praktik penyebrangan sungai. Jadi tak hanya tataekan, Ci Kaso yang menggoda itu memang memiliki banyak cara memberi pelajaran bagi anak-anak alam.

Leader, berenang membawa tali ke seberang. Foto: Oka Sumarlin
Leader, berenang membawa tali ke seberang. Foto: Oka Sumarlin
Membentang tali, membuka jalur penyebrangan sungai. Foto: Oka Sumarlin
Membentang tali, membuka jalur penyebrangan sungai. Foto: Oka Sumarlin

Selesai menyebrang dan basah-basahan, praktik selanjutnya adalah rappeling dasar. Meskipun dilakukan di gawir yang tak terlalu tinggi, praktik ini jelas menguji nyalai para pemula. Semua belajar penuh sukacita.

Boedoet Megathron, anggota Passanam, sedang berlatih rappeling. Foto: Oka Sumarlin
Boedoet Megathron, anggota Passanam, sedang berlatih rappeling. Foto: Oka Sumarlin

***

Mimpi

Kami memang hanya bermain sebantar di sini. Yang kami lakukan juga bukan apa-apa. Namun jika kami tak melakukannya, pemanjatan-pemanjatan selanjutnya mungkin tak kan pernah ada.

Langkah kecil kami didorong oleh mimpi besar agar kelak panjat tebing bisa dikenal ditanah kami. Secara alamiah, anak-anak lembur memiliki naluri dan nyali pemanjatan yang sangat baik. Tinggal dipandu agar melek alat dan melek sistem, bukan tak mungkin mereka akan tumbuh menjadi pemanjat-pemanjat hebat.

Ada satu poin yang kami catat dalam piknik kali ini. Barangkali saja, di tempat ini, kami bisa membuka sekolah panjat tebing dengan mengundang instruktur-instruktur berpengalaman. Jika itu terjadi, maka akan lahir pemanjat-pemanjat lokal bersertifikat yang diharapkan mampu menularkan ilmunya agar panjat tebing bisa lebih cepat diterima memasyarakat.

Sekali lagi, Sukabumi sangat kaya potensi. Persoalannya, siapa yang peduli?!

Please follow and like us:

Author: okasumarlin@gmail.com

Mang Oka (Oka Sumarlin), Anggota Jantera (Perhimpunan Pecinta Alam Geografi Universitas Pendidikan Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *