Kabar dari Curug Ci Minyak

Di jaman now ini memang tak sulit membuat sebuah tempat tiba-tiba terkenal dan dalam waktu singkat menjadi buruan tukang jalan-jalan. Tetapi berapa lama semua itu bisa bertahan?

Tirai akar, keunikan Curug Ci Minyak

BARISAN POHON KARET mengapit jalan aspal yang menurun tajam menuju Ciwaru. Kampung ini berada di lembahan besar yang hampir seluruhnya  menghijau oleh persawahan. Pasir Hawu (290 mdpl.), titik tertinggi di daerah ini, juga terlihat hijau karena dipenuhi semak dan satu dua tegakan pepohonan.

Sore itu hujan tak jadi turun. Mendung yang menggelayut kembali tertiup angin dan mungkin jatuh di tempat lain. Perjalanan ke Curug Ci Minyak menjadi relatif aman karena saat itu  saya bergerak bersama emak-emak yang membawa serta bocah-bocah mereka. Kagak kebayang deh kalau hujan. Perjalanan yang diformat buat senang-senang dipastikan bakal berantakan.

Selepas melintasi jalan cor yang membelah sawah kami tiba di ujung kampung. Beberapa pemuda segera mengarahkan sepeda motor menuju parkiran di samping masjid. Setelah dibagi nomor parkir, kami mulai mengayun langkah di atas galengan, menyusuri jalan tanah tipis menembus rerumpun bambu di tepi aliran sungai. Kurang lebih sepuluh menit, trek tanah sekira tiga ratus meter itu berujung pada aliran sungai yang dipenuhi bongkah-bongkah batuan.

Trek tanah Curug Ci Minyak. Foto: Mang Oka
Trek tanah Curug Ci Minyak. Foto: Mang Oka

Ci Minyak, berhulu di kaki Gunung Bentang. Mengalir ke arah tenggara, kemudian berbelok ke timur di sekitar Cisaar, dan bermuara di Sungai Ci Bala, anak Sungai Ci Buni. Sepanjang delapan Km alirannya, sungai ini memiliki peran penting bagi masyarakat yang dilaluinya, terutama para petani di Desa Padasenang dan Banjarsari di Kecamatan Cidadap Kabupaten Sukabumi. Ci Minyak mengairi persawahan, dan menjadi sumber air bersih pada musim kemarau.Hampir setiap hari ada saja  yang menyusuri sungainya untuk memancing, berharap memperoleh ikan semisal beunteur,regis, lele kampung, atau jenis-jenis ikan piaraan yang lolos dari balong-balong yang bocor. Dan yang tak boleh dilupakan, Ci Minyak adalah tempat alam desa menggembleng anak-anaknya: belajar berenang, belajar memancing dan ngaliwet, belajar menghadapi banyak tantangan agar tak tumbuh menjadi anak-anak manja. Tapi itu dulu. Kini semuanya sudah sangat berbeda.

Hampir tiga puluh tahun yang lalu, ketika melintasi Jembatan Ci Minyak di Gunung Sumbul, ayah saya mendongeng tentang kenapa sungai ini dinamai Ci Minyak. Konon, jaman dulu, ada seorang pedagang minyak keliling. Ia selalu berjalan kaki sambil memikul semacam wadah besar di mana minyak itu disimpan di dalamnya. Suatu ketika, saat ia lelah, ia memakan buah marasi (Curculigo latifolia) yang manis dan kemudian meminum air sungai. Betapa kagetnya ketika ia menyadari air yang diminumnya terasa manis. Ia sangat takjub pada air sungai itu, dan akhirnya memutuskan untuk membuang minyak dagangannya dan menggantinya dengan “air manis” itu. Minyak yang tumpah kemudian bercampur dengan aliran air. Sejak itulah sungai ini disebut Ci Minyak.

Dongeng itu menghidupkan imajinasi saya. Saya jadi senang memakan marasi, dan senang pula bermain-main di Ci Minyak. Dan yang paling penting, selalu tergerak mencari tahu makna sesungguhnya di balik toponimi itu.

Objek wisata?

Pada awal alirannya, Ci Minyak menggerus batuan yang dikenal sebagai Formasi Bentang. Semakin ke hilir, batuan yang dilaluinya berbeda. Yang dominan tersingkap sepanjang aliran sungai adalah breksi vulkanik dari keluarga Formasi Jampang. Breksi vulkanik itu dikenal luas oleh masyarakat sebagai batu kutil. Batuan ini merupakan batuan endapan yang tersusun oleh material-material gunungapi jutaan tahun silam. Kutil alias fragmen yang dominan dari batuan itu berupa bongkahan lava basalt yang bertekstur halus, berwarna hitam legam.

Fragmen basalt pada batuan breksi di Curug Ci Minyak
Fragmen basalt pada batuan breksi di Curug Ci Minyak. Foto: Mang Oka

Baca juga: Bouldering di Ci Kaso

Di sekitar Ciwaru inilah, pada ketinggian 150 mdpl., melalui serangkaian proses erosi yang sangat panjang, aliran Ci Minyak membentuk air terjun alias curug yang dikenal sebagai Curug Ci Minyak. Jika diukur, dari dasar curug hingga tonjolan batuan terakhir di bagian puncak, paling-paling sekitar dua puluh meter. Tak tinggi memang, tetapi cukup mengesankan. Di dasar curug, seperti biasa, ada lubuk kecil yang menyimpan banyak cerita tentang bagaimana curug itu terbentuk.

Curug Ci Minyak dari Celah Boulder
Curug Ci Minyak dari Celah Boulder. Foto: Mang Oka

Curug Ci Minyak adalah curug yang rimbun. Gemuruh air musim hujan tak henti memecah kesunyian. Kala kemarau curug ini jauh lebih hening  karena debit air memang tak lagi stabil. Aliran sungai di dasar Curug Ci Minyak tampak sebagai pelataran luas. Sebagian berair, sebagian kering. Banyak bongkah besar breksi vulkanik yang menarik bagi para pecinta bouldering. Di sana, aliran air membentuk jeram-jeram kecil yang akan membuat anak-anak betah bermain air. Barangkali karena pesona inilah, noni-noni Belanda jaman baheula sangat senang mengunjunginya.

Curug Ci Minyak disukai anak-anak
Curug Ci Minyak disukai anak-anak. Foto: Bi Ai

Jika kita berdiri menghadap curug yang bertingkat itu, di samping kiri ada kebun bambu Bi Nani. Dan di samping kanan, ada dinding batu yang menjadi eksotis karena dibalut akar-akar gantung dari beberapa  pohon kiara yang tumbuh di bagian atas. Komposisi akar itu bagaikan tirai yang terjuntai lembut. Sesungguhnya, tirai akar inilah yang bisa menjadi pembeda antara Curug Ci Minyak dan curug-curug lainnya. Kegiatan semacam root climbing barangkali bisa dimainkan juga di sana.

Akar, memeluk batuan
Akar, memeluk batuan. Foto: Mang Oka

Sepertinya belum ada sentuhan serius pada potensi curug. Namun, sudah ada dua saung terpal di tempat yang mestinya steril dari pembangunan “fisik”. Selain itu, ada juga bendera parpol yang dipasang pada tiang bambu di atas batu. Sungguh awal kurang pas dalam langkah pengembangan objek wisata.

Saat ini Curug Ci Minyak mulai dikenal dan dikunjungi banyak orang. Ada yang datang sendiri-sendiri, bersama keluarga, atau bersama komunitas-komunitasnya. Orang-orang pun tak ragu menyebut curug itu sebagai sebuah objek wisata. Di jaman now ini memang tak sulit membuat sebuah tempat tiba-tiba terkenal dan dalam waktu singkat menjadi buruan tukang jalan-jalan. Tetapi berapa lama semua itu bisa bertahan?

Contoh terdekat, tengoklah Puncak Pilar, Pasir Pogor, dan Puncak Angin di Pabuaran. Tempat-tempat itu telah menjadi objek wisata yang “gledug … ces”! Tiba-tiba hidup, dan tiba-tiba mati. Konsep pengembangan yang tak tepat terbukti membuat objek-objek itu berumur singkat. Semuanya hanya menyuguhkan tempat selfie yang sesungguhnya bisa dibuat di halaman rumah sendiri. Sejarah mencatat, objek-objek wisata yang bertahan lama adalah tempat yang ada “gizi-nya”. Semua tempat memiliki potensi gizi sendiri-sendiri. Tetapi si empunya, kadang tak mengerti  soal ini.

Seperti umumnya pengembangan sebuah objek wisata, ada sejumlah pertanyaan mendasar yang harus dijawab di Curug Ci Minyak: what to see (apa yang bisa dilihat?), waht to do (apa yang bisa dilakukan), what to buy (apa yang bisa dibeli?), how to arrive (bagaimana bisa kesana?), how to stay (bagaimana tinggal/menginap di sana?).

Pertanyaan-pertanyaan itu, karena merupakan sebuah prasyarat pengembangan pariwisata, harus bisa dijawab lengkap oleh calon pengelola. Usaha ke arah itu akan membawa kita pada pemahaman tentang konsep pengembangan yang sesuai dengan kondisi setempat, dan juga pemahaman tentang potensi-potensi masalah yang mungkin terjadi di kemudian hari. Semua potensi masalah harus diantisipasi sejak dini, dan jangan ditunda karena akan lebih menyulitkan dalam penyelesaiannya. Intinya, perlu dilakukan kajian mendalam agar Curug Ci Minyak bisa menjadi “gizi” bagi warga Padasenang, dan juga menjadi “gizi” yang memenuhi kebutuhan para pengunjungnya.

*

Lepas dari itu semua, sebagai orang yang tumbuh besar di Padasenang, saya  memiliki ikatan emosional cukup kuat dengan Curug Ci Minyak. Tentu ada harapan agar pengembangannya bisa berjalan on the track. Memperhatikan kelestarian alam, memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Bukan sekadar tembok sana-tembok sini. Ngagugulung polesan fisik yang akan merusak keaslian tempat itu untuk selama-lamanya. Apalagi kalau sampai mengganti nama Curug Ci Minyak menjadi Curug Pelangi, Curug Cinta, atau nama-nama lain yang sungguh bikin geli!***

 

 

 

 

 

 

 

 

Please follow and like us:

Author: okasumarlin@gmail.com

Mang Oka (Oka Sumarlin), Anggota Jantera (Perhimpunan Pecinta Alam Geografi Universitas Pendidikan Indonesia)

One thought on “Kabar dari Curug Ci Minyak”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *