Fosil Melongena Gigas: Jejak Laut dari Pegunungan Sagaranten

Dari jejak di sungai ini saja, masa lalu bumi Sagaranten sudah bisa tanya. Benarkah dulunya lautan? Mengapa berubah menjadi pegunungan?

Fosil Melongena gigas, jejak laut ari sagaranten

TAHUN 2011, Dani Buldani, anggota Passanam SMAN 1 Sagaranten melakukan penjelajahan kecil di sekitar Gunung Sapu. Oleh-oleh dari perjalanan itu adalah sebuah fosil binatang laut berwarna putihkapur, bentuknya seperti kumang yang berduri tumpul di bagian cangkang, tetapi besar segede buah kelapa. Temuan yang menjadi bahan perbincangan Dani dan teman-temannya itu kemudian disimpan di sekolah. Saya menggunakannya sebagai media pembelajaran geografi, dan contoh untuk manas-manasin anak-anak pecinta alam agar bersemangat untuk menemukan sesuatu di setiap penjelajahannya.

Ketika kemudian saya melepas anak-anak untuk belajar di luar kelas, meminta mereka melakukan pengamatan batuan di sungai-sungai semisal Ci Jeruk dan Ci Herang, banyak yang kembali dengan fosil-fosil yang sama dengan temuannya Dani. Ukurannya beragam. Ada yang lebih kecil, ada juga yang besar. Ada yang masih utuh, ada juga yang pecah atau patah. Namun semuanya dapat diidentifikasi sebagai satu spesies yang sama.

Jalan-jalan di Ci Herang sangatlah mengasyikkan. Sepanjang alirannya, berserak batuan sedimen dengan fragmen fosil binatang laut beragam jenis dan ukuran. Waktu dan proses alam telah lama memecah lapisan batuan menjadi bongkah-bongkah kecil yang indah, di mana di dalamnya terdapat cangkang kerang, siput, keong, tulang ikan, dan berbagai jejak hidupan laut dari jaman baheula. Dari jejak di sungai ini saja, masa lalu bumi Sagaranten sudah bisa tanya. Benarkah dulunya lautan? Mengapa berubah menjadi pegunungan?

Fosil Melongena gigas dari Pegunungan Sagaranten. Foto: Oka Sumarlin
Fosil Melongena gigas dari Pegunungan Sagaranten. Foto: Oka Sumarlin

Sagaranten—dalam tulisan ini dimaksudkan untuk menyebut juga anak-anak kecamatannya seperti Cidolog, Cidadap, Curugkembar—merupakan bagian dari Zona Pegunungan Selatan Jawa. Memiliki perbukitan/pegunungan berlapis dengan variasi ketinggian sekitar 200 hingga 700 mdpl. Dua puncak yang populer di wilayah ini adalah Gunung Bentang (711 mdpl.) dan Gunung Kamunding (699 mdpl.).

Di kedua gunung itu, bahkan di puncak-puncaknya, masyarakat banyak menemukan fosil-fosil kerang berukuran besar. Urang Margaluyu di kaki Kamunding, urang Ciketa di kaki Gunung Bentang, sudah sejak lama akrab dengan temuan-temuan seperti itu. Namun, karena hampir tak ada informasi bahwa semua itu penting, maka temuan berharga itu pun hanya jadi mainan sesaat kemudian hilang entah kemana.

Fosil yang banyak ditemukan, seperti juga temuan anak-anak SMAN 1 Sagaranten, adalah sejenis moluska laut purba yang dikenal sebagai Melongena gigas. Panjang cangkangnya bisa lebih dari 25 cm. Tak banyak catatan ilmiah yang bercerita tentang spesies ini. Bahkan ketika mencoba menelusuri literatur dunia maya, saya hanya menemukan hasil penelitian Vermeij & Raven yang dimuat pada jurnal “Contributions to Zoology (2009)” berjudul “Southeast Asia as a Birthplace of Unusual Traits: The Melongenidae (Gastropoda) of Northwest Borneo”.

Penelitian itu mempublikasikan temuan-temuan fosil gastropoda. Salah satunya berupa Melongena gigas yang ditemukan pada formasi Sibuti yang berumur early miocene (miosen awal) di Serawak, Malaysia. Bentuknya sama dengan fosil serupa yang berserak di Pegunungan Sagaranten. Kala miosen awal konon berlangsung antara 23,3 s.d. 16,3 juta tahun yang lalu.

Taksonomi spesies itu adalah: Filum: Molusca, Kelas: Gastropoda, Sub Kelas: Caenogastropoda, Ordo: Neogastropoda, Superfamili: Buccinoidea, Famili: Melongenidae, Genus: Melongena, Spesies: Melongena gigas.

Lalu apakah Melongena gigas di Sagaranten memiliki umur yang sama dengan yang ditemukan di Serawak? Barangkali perlu lanjutan penelitian geologi untuk memastikannya, mengingat daratan Sukabumi Selatan telah mengalami serangkaian proses tektonik yang begitu intensif.

Bagi kite-kite yang pengetahuan geologinya biase-biase aje, cukuplah mengerti bahwa keberadaan fosil-fosil purba itu sangatlah penting bagi ilmu pengetahuan. Selain Melongena gigas, di kawasan ini pun ditemukan fosil gigi ikan hiu purba (Charcarodon megalodon). Fosil-fosil itu layak ditunjukkan pada anak-anak kita agar mereka mengerti masa lalu daerahnya:

Bahwa Sagaranten, dan Sukabumi Selatan pada umumnya dulu kala merupakan dasar laut. Beberapa bagiannya merupakan laut dangkal yang hangat dan menjadi habitat terumbu karang. Bersama sisa-sisa binatang laut lainnya, semisal cangkang kerang, dan gigi ikan hiu yang memiliki kandungan kalsium karbonat, sisa terumbu karang itu tertumpuk dan terendapkan. Waktu lantas mengubahnya menjadi batuan kapur.

Melalui proses tektonik yang panjang, lapisan batuan itu terangkat, semakin jauh berpisah dengan air laut, dan menemukan wujud kekiniannya berupa bukit-bukit kapur. Contoh paling dekat dengan pusat Kecamatan Sagaranten adalah perbukitan kapur di Cikarang yang cukup dikenal dengan keberadaan gua-guanya yang mempesona.

Bumi Sagaranten, bekas dasar laut itu, pantaslah untuk terus dijelajahi bahkan diteliti dengan sungguh-sungguh, karena informasi tentang keunikan geologi kawasan ini masih sangat terbatas. Anda mungkin tak akan menemukan tempat yang mewah untuk ber-selfie ria. Tetapi mungkin saja Anda justru menemukan jejak-jejak baru yang memandu memahmi kehidupan masa lalu. Mau?

 

Please follow and like us:

Author: okasumarlin@gmail.com

Mang Oka (Oka Sumarlin), Anggota Jantera (Perhimpunan Pecinta Alam Geografi Universitas Pendidikan Indonesia)

3 thoughts on “Fosil Melongena Gigas: Jejak Laut dari Pegunungan Sagaranten”

  1. Good Day,

    Lucas Weber Here from World Class Solutions, wondering
    can we publish your blog post over here? We are looking to
    publish new content and would love to hear about any new products,
    or new subjects regarding your website here at narulis.com .

    You can submit your post directly to us here:

    http://www.worldclass-solutions.space

    Generally, it can be any general article with a minimum of 500 words, and the more words, the better.

    Please let me know,
    Cheers
    Lucas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *