Curug Cikaso itu ada di Sungai Ci Curug!

Air terjun itu dulunya bernama Curug Luhur. Namun, karena objek alam yang dominan di kawasan itu adalah Sungai Ci Kaso, maka banyak pengunjung yang kemudian menyebutnya Curug Cikaso

Curug Cikaso

Masuklah ke mesin pencari Google. Tulis kata kunci “Curug Cikaso”, maka akan muncul ribuan gambar seputar air terjun di Kecamatan Cibitung Kabupaten Sukabumi itu. Gambar-gambar yang ditampilkan umumnya bagus-bagus. Mengisyaratkan bahwa para pemotretnya, juga kamera yang digunakannya, bukan kelas abal-abal.

Curug Cikaso memang indah—kecuali kala kemarau ketika air terjun hanya menjadi tebing tanpa air. Dan sekarang menjadi sangat terkenal karena tidak hanya dikunjungi oleh urang Sukabumi, tetapi juga urang Bandung, urang Jabodetabek, dan traveler-traveler dari daerah lain. Beberapa orang bahkan tercatat telah menjadi korban akibat ketidakhati-hatian ketika berenang di lubuk curug yang dalam, hijau kebiruan.

Bersama gambar-gambar nan ciamik itu, terbaca beragam informasi yang ditulis beragam pengunjung, juga beragam instansi. Kebanyakan berbicara tentang view Curug Cikaso yang menakjubkan, aksesibilitas, harga tiket, dan aneka tips and tricks yang sekiranya mampu memberi bekal pertimbangan bagi para pengunjung.

Menilik cerita yang kurang lebih sama, saya menduga informasi tentang Curug Cikaso bermula dari satu sumber yang kemudian beranak pinak menjadi banyak. Salah satu yang saya cermati adalah tentang ketinggian Curug Cikaso. Hampir semua mencatat bahwa curug ini memiliki tinggi 80 meter. Lihatlah tulisan di https://wikipedia.org, www.disparbud.jabar.go.id, atau di https://sukabumiupdate.com.

Seorang pemandu, yang juga merupakan awak perahu, juga menyampaikan informasi itu ketika mengobrol di sela-sela pohon, di antara bangunan-bangunan yang mulai tak sedap dipandang di pelataran objek wisata Curug Cikaso:

“Curug itu tingginya 80 meter. Saya sendiri yang pernah mengukurnya. Saya punya tali 100 meter. Dari atas saya turunkan ke bawah. Sisanya 20 meter. Berarti tingginya 80 meter. Kalau dari bawah memang seperti pendek, tetapi kalu dilihat dari atas, tinggi sekali”.

Barangkali, Si Mamang inilah yang menjadi sumber primer ketinggian Curug Cikaso. Saya belum mencoba mengukurnya. Namun, berdasar pada taksiran pribadi, juga taksiran teman-teman seperjalanan, sepertinya tak mungkin setinggi itu. Hampir semua sepakat bahwa Curug Cikaso ditaksir memiliki tinggi 20 meteran. Oleh karena itu, bagai yang punya waktu luang, cobalah buktikan berapa tinggi sebenarnya agar informasi seputar objek wisata menjadi akurat adanya.

Sungai Ci Curug

Curug Cikaso tidak berada di Sungai Ci Kaso, melainkan di Sungai Ci Curug, anaknya Ci Kaso. Untuk tiba di sana, dari parking area, kita bisa liwat jalan darat atau naik perahu dari pelabuhan kecil Ci Kaso yang nampak cukup rapi. Perjalanan dengan perahu memakan waktu sekira lima menit, menyusuri Ci Kaso yang lebar ke arah hilir, kemudian berbelok ke aliran Ci Curug yang rimbun oleh pelukan pepohonan.

(Saya tiba-tiba teringat pada Curug Cikondang dan Curug Cilemper di Subang, yang keduanya terlanjur dikenal sebagai Curug Cijalu).

Ci Curug adalah sungai kapur. Hal ini jelas nampak dari bongkah-bongkah batuannya yang berserak, terutama di sekitar air terjun. Bahkan pada lekukan-lekukan air terjun bagian atas, nampak jelas ornamen-ornamen hasil endapan kapur seperti yang biasa kita temui pada gua-gua di kawasan karst. Ada semisal stalaktit, flowstones, dan bentuk-bentuk lain yang mengukuhkan indentitas kekapurannya.

Aliran Ci Kaso dan Ci Curug
Aliran Ci Kaso dan Ci Curug. Foto: Mang Oka

*

Air terjun itu dulunya bernama Curug Luhur. Namun, karena objek alam yang dominan di kawasan itu adalah Sungai Ci Kaso, maka banyak pengunjung yang kemudian menyebutnya Curug Cikaso. Dan nama itulah yang sekarang dipakai dan poluper.

Di akhir catatan ini, ada dua pertanyaan yang muncul: Pertama, mengapa sih seneng banget menggonta-ganti nama tempat? Kedua, mengapa informasi-informasi di sebuah objek wisata sering tak akurat?!***

Baca juga: Cibuaya, dari Kekayaan Biota ke Instagramable Area

 

 

 

Please follow and like us:

Author: okasumarlin@gmail.com

Mang Oka (Oka Sumarlin), Anggota Jantera (Perhimpunan Pecinta Alam Geografi Universitas Pendidikan Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *